Beberapa pucuk daun yang
telah mati ikut terbang bersama angin. Masuk keberanda rumahku yang sederhana
bercat putih pucat tanpa permisi. Bau hujan yang akan turun disampaikan angin
kepada indera penciumanku, angin yang bertiup terasa dingin dan basah. Ditemani
teh hangat beraroma melati dalam cangkir mungil berwarna biru pudar dan
beberapa gula sachet-an, aku duduk bersantai di bangku kayu bercat cokelat
pudar.
"..hujan.." Gumamku.
Tak lama, tetes-tetes air hujan mulai turun satu persatu
lalu mengkalkulasikan dirinya menjadi jutaan tetes kecil, gerimis. lalu hujan
pun berubah deras. Aroma tanah kering yang terkena tetesan hujan berpendar
keseluruh ruang. Wangi yag familiar. Wangi yang kusuka selain wangi teh melati,
yang memberi banyak warna melebihi warna pelangi setelah hujan. Beberapa tetes
hujan menghampiriku, memberi salam dan mulai bercerita, bercerita tentang masa
lalu ..
Lonceng berbunyi bersamaan dengan
derit pintu-pintu kelas yang dibuka. seluruh siswa keluar berbarengan, saling
bercengkrama dan bercanda tawa. Entah bercerita apapun. Hawa panas menyeruak
masuk kedalam ruang kelas yang sempit yang baru saja dibuka guru pelajaran
terakhir. Rasanya sumpek, sesak. Berjejalan, sebagian siswa dikelas keluar
menerobos pintu saling dorong dan melambaikan tangan serta senyum.
Aku masih sibuk dengan semua peralatan
tulis yang sedang kujejalkan dalam tas. Seseorang menepuk pundakku dari
belakang. Aku menoleh cepat sebagai respon.
"Duluan, ya.." Pamitnya
dengan senyum diujung bibir tipisnya. Dia lalu melambaikan tangan tanpa menoleh
kearahku.
"..Yaa..". Jawabku perlahan
dan pelan.
Akupun ikut keluar dari kelas setelah
selesai merapikan semua barangku. Udara panas tadi seketika hilang, sinar
matahari yang biasanya menyengat dengan teriknya kini berganti dengan hawa adem
dan awan yang berarak sepanjang perjalanan pulang.
Tiba-tiba sekumpulan angin berhembus
sangat kencang, menyapu daun-daun yang jatuh ditepian jalanan. Entah kenapa,
tiba-tiba perasaanku jadi terasa kacau, tak enak, serasa ada yang ikut masuk kedalam
paru-paruku seiring dengan hembusan angin aneh tadi, bikin sesak!
Orang-orang disekitarku bergerak lebih
cepat. berlalu-lalang, mungkin ingin mengejar waktu atau mengejark bus yang
sudah menanti di halte dan akan segera berangkat. Aku masih berjalan santai
dengan segala pemikiran yang tak berarti. Omong kosong !!
'tes!' Setitik pola polkadot jauh
didepan sepatuku satu.
'Tes!' Lalu jatuh lagi di ujung tepian
jalanan. Lalu menetes ke tangan, dahi, rambut dan seluruh seragam sekolahku.
Dan tasku juga!!
"Ohh.. hujan!!" Rutukku
dalam hati. Aku berlari sekuat tenaga, secepat yang kubisa, menghindari
ribuan..ah, tidak. jutaan tetes hujan yang jatuh bersamaan menuju.. entah
menuju kemana.. yang penting aku bisa berteduh dan terselamatkan dari basahnya
hujan ini.
"Aku benci hujan!" Aku
kembali merutuk dalam hati sambil terus berlari, lalu..
"Argghh !!" Aku berteriak,
Lalu "Bruk!" Suara tubuhku menabrak aspal. Aku terjatuh dijalanan
basah dan kuyup di tengah hujan. Mungkin dewa hujan marah karena aku terus
mengeluh. Masa Bodo!!
"uuhh.. " Aku meringis,
sakit. Lutut dan sikuku terluka. Tergores entah apa itu, tapi tak terlalu
kuperdulikan. Aku lalu bangkit dan kembali berlari sambil menahan rasa sakit.
Didepan ada sebuah halte kosong. Itu
adalah tujuanku sekarangsambil menunggu hujan reda atau bus yang kuhendaki naik
datang. Atau apapun saja duluan yang kuhendaki tiba!
Aku kesal! Baju seragamku kuyub,
sepatuku kotor, tasku juga. Lutut dan sikuku terluka. Aku semakin kesal! Aku
semakin benci hujan.
Aku duduk sendiri dihalte kosong itu
sambil menunggu hujan reda. Semoga hujannya tak lama! Harapku dalam hati.
Dari arah yang berlawanan denganku
datang seorang laki-laki berlari cepat mencari tempat berteduh, dia berhenti
didepanku lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Boleh ikut neduh?" Tanyanya
dan kembali tersenyum.
Aku tertegun, "Oh.. yaa" Aku
lalu menggeser posisi dudukku agar ia juga bisa duduk. Jika dia mau. Tapi
tidak! Dia tidak duduk di tempat yang telah kusediakan. Dia, laki-laki itu
malah terus berdiri mematung ditempat awal ia datang tadi, sambil sesekali
menoleh kearahku lalu bertukar senyum.
Hampir setengah jam kami, aku dan
laki-laki asing itu berteduh dihalte, tapi hujan tak kunjung reda. Bahkan
sampai baju seragamku hampir kering lagi. Hujan sepertinya makin awet.
Menyebalkan!
Tiba-tiba, laki-laki itu mengangkat
tangannya menengadah seraya berdoa tapi tak berdoa, dia menjulurkan tangannya
ke air hujan yang jatuh dari atap halte. Seketika itu juga telapak tangan
kanannya penuh dengan air hujan dan secepatnya air yang meluber itu mengalir ke
tangannya membasahi kemeja biru yang sudah hampir kering itu. Dia tersenyum
kearahku. Lagi.
"Kamu jatuh, ya..?!"
Tanyanya saat melihat lututku yang tergores.
"Ah.." Responku. Kaget
ditanya tiba-tiba, padahal dari tadi hening. Aku mengangguk. " Didepan
sana.." Aku menunjuk dua pohon besar berjajar diseberang tiang lampu lalu
lintas.
"Hmm.. Masih sakit? Sudah di
bersihkan?" Sekarang dia memutar tubuhnya sepenuhnya kearahku.
Aku merasa hangat seketika menjulur
kewajahku. Pasti wajahku merona merah. Uuhh.. memalukan !! Pasti warnanya
seperti kepiting rebus yang baru diangkat dari panci. Gerutuku dalam hati.
Aku mengangguk perlahan tanpa berani
menatap wajahnya. Malu. "Dengan air hujan" Suaraku agak
bergetar.'Ohh.. apa ini?' Gumamku dalam hati. Aku tau dia tersenyum dan entah
kenapa wajahku semakin terasa hangat. Oh bukan! Panas!!
"Apa perlu obat?" Tanyanya
lagi, suaranya terdengar semakin dekat, atau hanya perasaanku saja?
"Kebetulan saya bawa."
Sambungnya.
Aku langsung mengangkat wajahku dan
betapa terkejutnya dia sudah ada di hadapanku. Dengan spontan aku meloncat
kebelakang dan terpeleset lalu -kembali- terjatuh dari bangku.
"Whuaaahh!!" Seruku dengan
terkejutnya dan lalu terasa sakit dibagian pinggangku. Laki-laki itu hampir
saja menangkap tanganku. Andai saja dia lebih cepat sepersekian detik.
"Kamu ga apa-apa? Sakitkah?"
Pertanyaan basi terlontar dari bibirnya. Dia mengulurkan tangannya sambil
membantuku berdiri.
"Aku mengangguk dan meringis
berbarengan. Laki-laki itu membuka tasnya dan mengekuarkan obat -entah apa itu,
yang pasti baunya seperti obat- lalu plester.
'Wah. lengkap sekali! Pasti dia juga
orang yang sangat ceroboh.' Pikirku, kagum saat melihat betapa lengkapnya P3K
yang dia miliki. Selesai membersihkan dan membalut lukaku, aku mengucapkan
banyak terima kasih "Maaf udah merepotkan."
"Hujannya masih betah, ya.."
Dia bergumam.
"Iya.." Sahutku.
"Gara-gara hujan ini aku jadi telat pulang, kebasahan, kedinginan dan
jatuh pula. Uhh.."
Dia menatapku lalu tersenyum dengan
lembut memamerkan lesung pipi single-nya di sebelah kanan.
"Hujan itu baik. " Suaranya
terdengar beda, "Hujan nyiramin pohonan yang dilupain pemiliknya karena
terlalu sibuk kerja. Hujan juga memberi kesejukan bagi kota yang panas karena
terlalu banyak polusi. Hujan juga mengaliri parit-parit yang kering dan
ngebantu para petani yang kesulitan air. Hujan juga membersihkan jalan-jalan
yang kotor yang jarang diperhatikan kita." Suaranya entah mengapa
terdengar lebih lembut. Mungkin it kata-kata yang keluar dari hatinya?
Entahlah.
Tapi aku serasa terhipnotis.
"Kalaupun ada kamu jatuh, itu
karena kamu terburu-buru dan gak berhati-hati." Sambungnya. Aku hanya
terdiam mendengarkannya, didalam hati aku hanya mengiyakan saja. 'Benar, semua
yang dia katakan itu.. benar'.
"Oh iya. Saya Rio" Dia
mengulurkan tangannya setelah menyebutkan namanya.
Aku menerima uluran tangannya yang
lebih besar dari tanganku dan lebih kasar, kurasa. "Lifia" Tuturku.
Dia kembali tersenyum. " Dan satu
lagi, Lif. Hujan telah mempertemukan kita dihalte ini dengan sengaja."
Kata-kata itu.. terdengar seperti alunan musik indah. Aku kembali merona.
Seperti di manterai, kami bercerita
panjang lebar seperti orang yang sudah berteman lama. Bercerita tentang
keluarga, sekolah yang sepertinya kami sudah kenal orang-orang yang kami
sebutkan dalam cerita, bahkan lelucon basi sepanjang hujan turun. Seketika itu
aku suka hujan. Dan aku tak ingin hujan berhenti sekarang untuk waktu yang
lama.. Karena entah kenapa aku tak ingin pergi dari orang asing ini. Orang
asing yang terlalu tersenyum lembut dan bertatapanm hangat ini membuatku merasa
lebih hidup, seakan dia mengajarkan warna paling indah melebihi warna pelangi
setelah hujan turun.
Saat kamu tertawa lepas saat aku
mengguyonkan lelucon basi yang sudah tak lucu lagi bagiku, hujan berhenti
turun. Rio, dia menatap jauh keseberang jalan yang panjang diujung sana.
"Hujannya berhenti, seperti
harapan kamu."
Aku terkejut, bagaimana dia tau aku
pernah berharap hal itu. Dia orang yang terlalu banyak misteri.
"Sepertinya kita harus pisah,
nih.. terima kasih atas waktu dan ceritanya, ya" Lalu kami berjabat
tangan, sama seperti pertama tadi dia datang.
Kenapa? Rasanya tak mau melepas
tangannya. Jari-jari panjangnya yang masih menggenggam tanganku. Aku tak rela.
Aku berharap hujan kembali datang dan tak pernah berhenti lagiagar aku bisa
terus bersamanya. 'Kumohon ..jangan berakhirrr!' Batinku.
Namun, yang keluar dari bibirku adalah
"..sama-sama .. dan hati-hati dijalan, ya" Dengan senyum yang sangat
dipaksakan.
"oh. iya.. Boleh aku minta
no.Handphone kamu ?"
Oh, pertanyaan yang sangat aku
harapkan. Aku segera mengeluarkan hp-ku dari tas.
"Arghh.. Hp-nya low dan aku gak
hafal no.hp-ku ..baru ganti soalnya." Kecewa yag kurasakan! Kenapa?
Dia tidak memperlihatkan raut wajah
kecewa, dia tetap tersenyum dan pamit. "Oh.. ok deh. aku pamit,
ya..hati-hati, jangan sampai jatuh lagi." Dia lalu melambaikan tangan dan
berlalu, menghilang di ujung salan sana, ditelan bayangan beton jalanan.
======================================================================
Semenjak pertemuan itu aku selalu
berharap hujan turun lagi dan menjebak kami berdua kembali, bercerita konyol
sambil bisa melihat senyumnya. Namun, dia tak pernah kembalike halte ituu
walaupun hujan deras dan halilintar menyambar. Aku tetap menunggu kesempatan
kedua bertemu dengannya.
Aku selalu menunggunya lewat dihalte
itu setiap pulang sekolah hingga aku lulus sekolah dan masuk perguruan tinggi.
Aku masih selalu berharap dia datang kembali sekadar menyapaku. Rasanya aku
ingin menangis karena terlalu sesak rasa didadaku. Sakit. Terlalu penuh beban
oleh orang asing bernama Rio itu. Sampai aku seperti gila karena tak bisa
melepas bayangannya padahal sudah lama tak ada kabar apapun darinya. Hingga aku
jatuh sakit. Sakit karena gila merindukannya.
Saat itu aku bermimpi, dia datang
dalam mimpi. Dia menghampiriku yang sedang menunggunya sendirian dihalte. Aku
mengenakan seragam SMA-ku yang basahdulu. Dan dia..Rio datang dengan senyumnya
yang kurindukan. Terlalu banyak pertanyaan yang ingin kulontarkan hingga rasa
sesak ini bisa hilang dan melegakan dadaku.
Tapi yang ada aku malah tak bisa
berkata apapun. Tak sepatah katapun keluar dari tenggorokanku. Aku jadi ingin
menangis.
“Hei.. Jangan.. jangan menangis,
cukuplah langit saja yang melihat perpisahan kita dan menangis..” Lalu dia
tersenyum.. Akhirnya aku bisa lagi melihat senyumnya yang hangat.
Aku menangkap tangannya,
menggenggamnya. Tak ingin melepaskannya, tapi aku tak bisa mengatakannya. Aku
hanya terdiam. Membisu. Seperti anak kecil yang belum bisa bicara, hanya bisa
memasang wajah sedih saat apa yang diinginkannya tak bisa diraih.
“Aku tau..” Rio berkata.
‘Tau apa?’ Tuntutku dalam hati. ‘Apa
kamu tau apa yang aku rasakan dalam hati saat menunggumu dan berakhir kecewa
karena kau tak pernah datang pada akhirnya? Apakah kau tau aku sakit dan hampir
gila karena terlalu merundukan kamu. Aku ingin mengenalmu. Aku hanya ingin..’
“Iya.. aku tau” Rio kembali mengulang
kata-katanya sambil menatapku. Lalu dia memberikan sebuah kotak kecil berbalut
kertas coklat tanpa corak.
“Ambillah. Ini kenang-kenangan”. Lalu
mimpi itu memudar sebelum aku tau apa isi dari bingkisan itu.
Aku tersadar dalam sebuah ruangan
serba putih dan bau obat yang menusuk. Seorang pria tertidur dibangku dekat
tempatku berbaring. Badanku lemas tak bisa bergerak, tapi aku haus. laki-laki
itu terbangun, lalu memelukku lembut. Dia tersenyum. Aku coba mengingatnya.
Dia..
“Ra..dian..?!” Suaraku parau.
Dia mengangguk senang dengan mata
berkaca-kaca. “Iya Lif” Dia sangat bahagia saat aku mengingat namanya. Aku..aku
ingat! Dia yang selalu pamit saat pulang sekolah dulu dan menepuk pundakku dari
belakang, dan dia juga yang selalu menyapa ‘selamat pagi’ saat dia baru tiba
disekolah, saat terlambat atau tidak.
Sekian lama telah berlalu dari aku
sakit memimpikan Rio itu, aku melupakan sesuatu. Bingkisan itu. Dengan segera
aku pergi ke halte itu. Sudah lama tak kesana, sepertinya tak ada yang
mengunjunginya selain aku selama ini. Semuanya penuh dengan rumput dan pohonann
rambat serta lumut. –Juga kenangan..
Aku coba mengingat-ingat dimana saat
itu aku duduk. Lalu kucari yang entah ada atau tidaknya benda itu. Aku terus
mencari penuh harap sampai matahari hampir tenggelam. Lalu.. sebuah kotakk yang
penuh dengan pohonan rambat jatuh saat kepalaku menyentuhnya. Tak percaya.
Akhirnya aku menemukannya, rasanya tak sabar ingin melihat isinya sekaligus
takut akaun kenyataan bahwa ini semua tak pernah ada. Secara perlahan
kubersihkan kotak itu dari sisa pepohonan rambat lalu kunuka kertas bungkusnya
yang sudah tak lagi jelas apa warnanya.
Sebuah cangkir berwarna biru usang
beserta pisin mungil dan selembar kertas tanpa isi. Aku menangis. Aku sakit!
Aku sedih juga senang bahwa semua ini bukan sekadar mimpi dan khayalan belaka.
Oh Tuhan, pertemukan kami sekali
lagi..
Kukira doa itu tak pernah
dijawab. Kukira aku tak didengar. Aku bertemu lagi dengannya dalam mimpi dan
aku bisa selalu melihatnya kapanpun saat aku tak bisa melihat yang lain. Bentuk
lain. Warna lain. Tapi aku bisa melihatnya tersenyum dengan hangat sambil
menataku dengan pandangan teduhnya.
“Sayang..” Suara lembut yang familiar
itu berbisik ditelinga kananku. “Masuk, yuk.. sudah mulai gelap” Ajaknya.
Dia lalu menggandengku, menuntunku
dengan hati-hati menyentuhku dengan lembut agar aku tak membentur salah satu
benda yang ada di hadapanku.
Radian, suamiku mengecup keningku dan
kembali menuntunku yang tak bisa melihat setelah kecelakaan 4 bulan lalu. Tapi,
dalam gelap ini. Aku melihat Rio yang berpendar dengan cahaya warna warninya
yang gemerlap dengan senyumnya.
Teruntuk
kamu ..
Janji
setia yang tak pernah terucap dalam lisan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar