Minggu, 16 November 2014

Hujan dan Sepenggal Cerita

Beberapa pucuk daun yang telah mati ikut terbang bersama angin. Masuk keberanda rumahku yang sederhana bercat putih pucat tanpa permisi. Bau hujan yang akan turun disampaikan angin kepada indera penciumanku, angin yang bertiup terasa dingin dan basah. Ditemani teh hangat beraroma melati dalam cangkir mungil berwarna biru pudar dan beberapa gula sachet-an, aku duduk bersantai di bangku kayu bercat cokelat pudar.
            "..hujan.." Gumamku.
            Tak lama, tetes-tetes air hujan mulai turun satu persatu lalu mengkalkulasikan dirinya menjadi jutaan tetes kecil, gerimis. lalu hujan pun berubah deras. Aroma tanah kering yang terkena tetesan hujan berpendar keseluruh ruang. Wangi yag familiar. Wangi yang kusuka selain wangi teh melati, yang memberi banyak warna melebihi warna pelangi setelah hujan. Beberapa tetes hujan menghampiriku, memberi salam dan mulai bercerita, bercerita tentang masa lalu ..
          Lonceng berbunyi bersamaan dengan derit pintu-pintu kelas yang dibuka. seluruh siswa keluar berbarengan, saling bercengkrama dan bercanda tawa. Entah bercerita apapun. Hawa panas menyeruak masuk kedalam ruang kelas yang sempit yang baru saja dibuka guru pelajaran terakhir. Rasanya sumpek, sesak. Berjejalan, sebagian siswa dikelas keluar menerobos pintu saling dorong dan melambaikan tangan serta senyum.
          Aku masih sibuk dengan semua peralatan tulis yang sedang kujejalkan dalam tas. Seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku menoleh cepat sebagai respon.
          "Duluan, ya.." Pamitnya dengan senyum diujung bibir tipisnya. Dia lalu melambaikan tangan tanpa menoleh kearahku.
          "..Yaa..". Jawabku perlahan dan pelan.
          Akupun ikut keluar dari kelas setelah selesai merapikan semua barangku. Udara panas tadi seketika hilang, sinar matahari yang biasanya menyengat dengan teriknya kini berganti dengan hawa adem dan awan yang berarak sepanjang perjalanan pulang.
          Tiba-tiba sekumpulan angin berhembus sangat kencang, menyapu daun-daun yang jatuh ditepian jalanan. Entah kenapa, tiba-tiba perasaanku jadi terasa kacau, tak enak, serasa ada yang ikut masuk kedalam paru-paruku seiring dengan hembusan angin aneh tadi, bikin sesak!
          Orang-orang disekitarku bergerak lebih cepat. berlalu-lalang, mungkin ingin mengejar waktu atau mengejark bus yang sudah menanti di halte dan akan segera berangkat. Aku masih berjalan santai dengan segala pemikiran yang tak berarti. Omong kosong !!
          'tes!' Setitik pola polkadot jauh didepan sepatuku satu.
          'Tes!' Lalu jatuh lagi di ujung tepian jalanan. Lalu menetes ke tangan, dahi, rambut dan seluruh seragam sekolahku. Dan tasku juga!!
          "Ohh.. hujan!!" Rutukku dalam hati. Aku berlari sekuat tenaga, secepat yang kubisa, menghindari ribuan..ah, tidak. jutaan tetes hujan yang jatuh bersamaan menuju.. entah menuju kemana.. yang penting aku bisa berteduh dan terselamatkan dari basahnya hujan ini.
          "Aku benci hujan!" Aku kembali merutuk dalam hati sambil terus berlari, lalu..
          "Argghh !!" Aku berteriak, Lalu "Bruk!" Suara tubuhku menabrak aspal. Aku terjatuh dijalanan basah dan kuyup di tengah hujan. Mungkin dewa hujan marah karena aku terus mengeluh. Masa Bodo!!
          "uuhh.. " Aku meringis, sakit. Lutut dan sikuku terluka. Tergores entah apa itu, tapi tak terlalu kuperdulikan. Aku lalu bangkit dan kembali berlari sambil menahan rasa sakit.
          Didepan ada sebuah halte kosong. Itu adalah tujuanku sekarangsambil menunggu hujan reda atau bus yang kuhendaki naik datang. Atau apapun saja duluan yang kuhendaki tiba!
          Aku kesal! Baju seragamku kuyub, sepatuku kotor, tasku juga. Lutut dan sikuku terluka. Aku semakin kesal! Aku semakin benci hujan.
          Aku duduk sendiri dihalte kosong itu sambil menunggu hujan reda. Semoga hujannya tak lama! Harapku dalam hati.
          Dari arah yang berlawanan denganku datang seorang laki-laki berlari cepat mencari tempat berteduh, dia berhenti didepanku lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
          "Boleh ikut neduh?" Tanyanya dan kembali tersenyum.
          Aku tertegun, "Oh.. yaa" Aku lalu menggeser posisi dudukku agar ia juga bisa duduk. Jika dia mau. Tapi tidak! Dia tidak duduk di tempat yang telah kusediakan. Dia, laki-laki itu malah terus berdiri mematung ditempat awal ia datang tadi, sambil sesekali menoleh kearahku lalu bertukar senyum.
          Hampir setengah jam kami, aku dan laki-laki asing itu berteduh dihalte, tapi hujan tak kunjung reda. Bahkan sampai baju seragamku hampir kering lagi. Hujan sepertinya makin awet. Menyebalkan!
          Tiba-tiba, laki-laki itu mengangkat tangannya menengadah seraya berdoa tapi tak berdoa, dia menjulurkan tangannya ke air hujan yang jatuh dari atap halte. Seketika itu juga telapak tangan kanannya penuh dengan air hujan dan secepatnya air yang meluber itu mengalir ke tangannya membasahi kemeja biru yang sudah hampir kering itu. Dia tersenyum kearahku. Lagi.
          "Kamu jatuh, ya..?!" Tanyanya saat melihat lututku yang tergores.
          "Ah.." Responku. Kaget ditanya tiba-tiba, padahal dari tadi hening. Aku mengangguk. " Didepan sana.." Aku menunjuk dua pohon besar berjajar diseberang tiang lampu lalu lintas.
          "Hmm.. Masih sakit? Sudah di bersihkan?" Sekarang dia memutar tubuhnya sepenuhnya kearahku.
          Aku merasa hangat seketika menjulur kewajahku. Pasti wajahku merona merah. Uuhh.. memalukan !! Pasti warnanya seperti kepiting rebus yang baru diangkat dari panci. Gerutuku dalam hati.
          Aku mengangguk perlahan tanpa berani menatap wajahnya. Malu. "Dengan air hujan" Suaraku agak bergetar.'Ohh.. apa ini?' Gumamku dalam hati. Aku tau dia tersenyum dan entah kenapa wajahku semakin terasa hangat. Oh bukan! Panas!!
          "Apa perlu obat?" Tanyanya lagi, suaranya terdengar semakin dekat, atau hanya perasaanku saja?
          "Kebetulan saya bawa." Sambungnya.
          Aku langsung mengangkat wajahku dan betapa terkejutnya dia sudah ada di hadapanku. Dengan spontan aku meloncat kebelakang dan terpeleset lalu -kembali- terjatuh dari bangku.
          "Whuaaahh!!" Seruku dengan terkejutnya dan lalu terasa sakit dibagian pinggangku. Laki-laki itu hampir saja menangkap tanganku. Andai saja dia lebih cepat sepersekian detik.
          "Kamu ga apa-apa? Sakitkah?" Pertanyaan basi terlontar dari bibirnya. Dia mengulurkan tangannya sambil membantuku berdiri.
          "Aku mengangguk dan meringis berbarengan. Laki-laki itu membuka tasnya dan mengekuarkan obat -entah apa itu, yang pasti baunya seperti obat- lalu plester.
          'Wah. lengkap sekali! Pasti dia juga orang yang sangat ceroboh.' Pikirku, kagum saat melihat betapa lengkapnya P3K yang dia miliki. Selesai membersihkan dan membalut lukaku, aku mengucapkan banyak terima kasih "Maaf udah merepotkan."
          "Hujannya masih betah, ya.." Dia bergumam.
          "Iya.." Sahutku. "Gara-gara hujan ini aku jadi telat pulang, kebasahan, kedinginan dan jatuh pula. Uhh.."
          Dia menatapku lalu tersenyum dengan lembut memamerkan lesung pipi single-nya di sebelah kanan.
          "Hujan itu baik. " Suaranya terdengar beda, "Hujan nyiramin pohonan yang dilupain pemiliknya karena terlalu sibuk kerja. Hujan juga memberi kesejukan bagi kota yang panas karena terlalu banyak polusi. Hujan juga mengaliri parit-parit yang kering dan ngebantu para petani yang kesulitan air. Hujan juga membersihkan jalan-jalan yang kotor yang jarang diperhatikan kita." Suaranya entah mengapa terdengar lebih lembut. Mungkin it kata-kata yang keluar dari hatinya? Entahlah.
          Tapi aku serasa terhipnotis.
          "Kalaupun ada kamu jatuh, itu karena kamu terburu-buru dan gak berhati-hati." Sambungnya. Aku hanya terdiam mendengarkannya, didalam hati aku hanya mengiyakan saja. 'Benar, semua yang dia katakan itu.. benar'.
          "Oh iya. Saya Rio" Dia mengulurkan tangannya setelah menyebutkan namanya.
          Aku menerima uluran tangannya yang lebih besar dari tanganku dan lebih kasar, kurasa. "Lifia" Tuturku.
          Dia kembali tersenyum. " Dan satu lagi, Lif. Hujan telah mempertemukan kita dihalte ini dengan sengaja." Kata-kata itu.. terdengar seperti alunan musik indah. Aku kembali merona.
          Seperti di manterai, kami bercerita panjang lebar seperti orang yang sudah berteman lama. Bercerita tentang keluarga, sekolah yang sepertinya kami sudah kenal orang-orang yang kami sebutkan dalam cerita, bahkan lelucon basi sepanjang hujan turun. Seketika itu aku suka hujan. Dan aku tak ingin hujan berhenti sekarang untuk waktu yang lama.. Karena entah kenapa aku tak ingin pergi dari orang asing ini. Orang asing yang terlalu tersenyum lembut dan bertatapanm hangat ini membuatku merasa lebih hidup, seakan dia mengajarkan warna paling indah melebihi warna pelangi setelah hujan turun.
          Saat kamu tertawa lepas saat aku mengguyonkan lelucon basi yang sudah tak lucu lagi bagiku, hujan berhenti turun. Rio, dia menatap jauh keseberang jalan yang panjang diujung sana.
          "Hujannya berhenti, seperti harapan kamu."
          Aku terkejut, bagaimana dia tau aku pernah berharap hal itu. Dia orang yang terlalu banyak misteri.
          "Sepertinya kita harus pisah, nih.. terima kasih atas waktu dan ceritanya, ya" Lalu kami berjabat tangan, sama seperti pertama tadi dia datang.
          Kenapa? Rasanya tak mau melepas tangannya. Jari-jari panjangnya yang masih menggenggam tanganku. Aku tak rela. Aku berharap hujan kembali datang dan tak pernah berhenti lagiagar aku bisa terus bersamanya. 'Kumohon ..jangan berakhirrr!' Batinku.
          Namun, yang keluar dari bibirku adalah "..sama-sama .. dan hati-hati dijalan, ya" Dengan senyum yang sangat dipaksakan.
          "oh. iya.. Boleh aku minta no.Handphone kamu ?"
          Oh, pertanyaan yang sangat aku harapkan. Aku segera mengeluarkan hp-ku dari tas.
          "Arghh.. Hp-nya low dan aku gak hafal no.hp-ku ..baru ganti soalnya." Kecewa yag kurasakan! Kenapa?
          Dia tidak memperlihatkan raut wajah kecewa, dia tetap tersenyum dan pamit. "Oh.. ok deh. aku pamit, ya..hati-hati, jangan sampai jatuh lagi." Dia lalu melambaikan tangan dan berlalu, menghilang di ujung salan sana, ditelan bayangan beton jalanan.
======================================================================
          Semenjak pertemuan itu aku selalu berharap hujan turun lagi dan menjebak kami berdua kembali, bercerita konyol sambil bisa melihat senyumnya. Namun, dia tak pernah kembalike halte ituu walaupun hujan deras dan halilintar menyambar. Aku tetap menunggu kesempatan kedua bertemu dengannya.
          Aku selalu menunggunya lewat dihalte itu setiap pulang sekolah hingga aku lulus sekolah dan masuk perguruan tinggi. Aku masih selalu berharap dia datang kembali sekadar menyapaku. Rasanya aku ingin menangis karena terlalu sesak rasa didadaku. Sakit. Terlalu penuh beban oleh orang asing bernama Rio itu. Sampai aku seperti gila karena tak bisa melepas bayangannya padahal sudah lama tak ada kabar apapun darinya. Hingga aku jatuh sakit. Sakit karena gila merindukannya.
          Saat itu aku bermimpi, dia datang dalam mimpi. Dia menghampiriku yang sedang menunggunya sendirian dihalte. Aku mengenakan seragam SMA-ku yang basahdulu. Dan dia..Rio datang dengan senyumnya yang kurindukan. Terlalu banyak pertanyaan yang ingin kulontarkan hingga rasa sesak ini bisa hilang dan melegakan dadaku.
          Tapi yang ada aku malah tak bisa berkata apapun. Tak sepatah katapun keluar dari tenggorokanku. Aku jadi ingin menangis.
          “Hei.. Jangan.. jangan menangis, cukuplah langit saja yang melihat perpisahan kita dan menangis..” Lalu dia tersenyum.. Akhirnya aku bisa lagi melihat senyumnya yang hangat.
          Aku menangkap tangannya, menggenggamnya. Tak ingin melepaskannya, tapi aku tak bisa mengatakannya. Aku hanya terdiam. Membisu. Seperti anak kecil yang belum bisa bicara, hanya bisa memasang wajah sedih saat apa yang diinginkannya tak bisa diraih.
          “Aku tau..” Rio berkata.
          ‘Tau apa?’ Tuntutku dalam hati. ‘Apa kamu tau apa yang aku rasakan dalam hati saat menunggumu dan berakhir kecewa karena kau tak pernah datang pada akhirnya? Apakah kau tau aku sakit dan hampir gila karena terlalu merundukan kamu. Aku ingin mengenalmu. Aku hanya ingin..’
          “Iya.. aku tau” Rio kembali mengulang kata-katanya sambil menatapku. Lalu dia memberikan sebuah kotak kecil berbalut kertas coklat tanpa corak.
          “Ambillah. Ini kenang-kenangan”. Lalu mimpi itu memudar sebelum aku tau apa isi dari bingkisan itu.
          Aku tersadar dalam sebuah ruangan serba putih dan bau obat yang menusuk. Seorang pria tertidur dibangku dekat tempatku berbaring. Badanku lemas tak bisa bergerak, tapi aku haus. laki-laki itu terbangun, lalu memelukku lembut. Dia tersenyum. Aku coba mengingatnya. Dia..
          “Ra..dian..?!” Suaraku parau.
          Dia mengangguk senang dengan mata berkaca-kaca. “Iya Lif” Dia sangat bahagia saat aku mengingat namanya. Aku..aku ingat! Dia yang selalu pamit saat pulang sekolah dulu dan menepuk pundakku dari belakang, dan dia juga yang selalu menyapa ‘selamat pagi’ saat dia baru tiba disekolah, saat terlambat atau tidak.
          Sekian lama telah berlalu dari aku sakit memimpikan Rio itu, aku melupakan sesuatu. Bingkisan itu. Dengan segera aku pergi ke halte itu. Sudah lama tak kesana, sepertinya tak ada yang mengunjunginya selain aku selama ini. Semuanya penuh dengan rumput dan pohonann rambat serta lumut. –Juga kenangan..
          Aku coba mengingat-ingat dimana saat itu aku duduk. Lalu kucari yang entah ada atau tidaknya benda itu. Aku terus mencari penuh harap sampai matahari hampir tenggelam. Lalu.. sebuah kotakk yang penuh dengan pohonan rambat jatuh saat kepalaku menyentuhnya. Tak percaya. Akhirnya aku menemukannya, rasanya tak sabar ingin melihat isinya sekaligus takut akaun kenyataan bahwa ini semua tak pernah ada. Secara perlahan kubersihkan kotak itu dari sisa pepohonan rambat lalu kunuka kertas bungkusnya yang sudah tak lagi jelas apa warnanya.
          Sebuah cangkir berwarna biru usang beserta pisin mungil dan selembar kertas tanpa isi. Aku menangis. Aku sakit! Aku sedih juga senang bahwa semua ini bukan sekadar mimpi dan khayalan belaka.
          Oh Tuhan, pertemukan kami sekali lagi..
          Kukira doa itu tak pernah dijawab. Kukira aku tak didengar. Aku bertemu lagi dengannya dalam mimpi dan aku bisa selalu melihatnya kapanpun saat aku tak bisa melihat yang lain. Bentuk lain. Warna lain. Tapi aku bisa melihatnya tersenyum dengan hangat sambil menataku dengan pandangan teduhnya.
          “Sayang..” Suara lembut yang familiar itu berbisik ditelinga kananku. “Masuk, yuk.. sudah mulai gelap” Ajaknya.
          Dia lalu menggandengku, menuntunku dengan hati-hati menyentuhku dengan lembut agar aku tak membentur salah satu benda yang ada di hadapanku.
          Radian, suamiku mengecup keningku dan kembali menuntunku yang tak bisa melihat setelah kecelakaan 4 bulan lalu. Tapi, dalam gelap ini. Aku melihat Rio yang berpendar dengan cahaya warna warninya yang gemerlap dengan senyumnya.

















Teruntuk kamu ..

Janji setia yang tak pernah terucap dalam lisan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Crush (Drama China - 2021)

  Nihaoo..!! Yep, kalo ada sapaan diatas berarti   yang bakal aku bahas adalah tentang perdramachinaan. Hari ini aku mau bahas drama yan...